Oleh : Erniawati, MPd (Guru MTs Muhammadiyah 15 Lamongan, Al-Mizan)
pwmu.co – Pendidikan selalu diposisikan sebagai kunci utama peradaban. Meski demikian, pendidikan di era digital seperti saat ini justru menghadapi tantangan yang tidak pernah terbayangkan di masa sebelumnya.
Internet, gawai pintar, media sosial, dan kecerdasan buatan telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Termasuk dalam ruang kelas pendidikan (baca: sekolah).
Pertanyaannya, mungkinkah pendidikan akan benar-benar mampu beradaptasi saat berhadapan dengan derasnya arus teknologi? Atau sebaliknya, justru menjadi larut hanyut dan terjebak dalam pusaran gelombang besarnya tanpa ada pegangan yang kokoh?
***
Dengan kata lain, pada sisi tertentu, teknologi sukses menghadirkan peluang yang luar biasa. Murid bisa belajar dari sumber apa saja, kapan saja, di mana saja dengan tanpa terbatas oleh ruang dan waktu.
Materi pembelajaran yang dahulu hanya tersedia di perpustakaan, kini dapat diakses dengan sekali sentuh layar.
Guru pun kian memiliki kemudahan dengan adanya berbagai aplikasi pembelajaran. Mulai dari manajemen kelas hingga evaluasi otomatis. Pendidikan seperti melakukan lompatan yang sangat jauh dan lebih cepat daripada sebelumnya.
Sedang pada sisi lainnya, adanya kenyataan pahit yang tidak bisa kita abaikan. Tidak semua siswa memiliki akses yang sama terkait teknologi. Anak-anak di kota besar mungkin memiliki peluang belajar dengan nyaman melalui fasilitas laptop dan jaringan internet yang stabil.
Sedang di daerah pelosok dan pinggiran — misalnya pada desa-desa yang belum terjangkau oleh internet —, tentu banyak yang mengeluh kesulitan belajar karena sulitnya mendapatkan sinyal internet yang ideal.
Adanya ketimpangan antara kota dan desa secara langsung mengganggu proses “kemajuan pendidikan”, dan obsesi memajukan pendidikan sendiri hanya menjadi impian semu.
Adilkah jika kita menyebut bahwa pendidikan di era digital merupakan sebuah lompatan besar? Padahal sebagian masyarakat justru belum memampu langkah ke arah itu?
Tantangan lainnya yang lebih halus yaitu terjadinya degradasi nilai dan konsentrasi belajar. Anak-anak kini lebih akrab dengan medsos — seperti TikTok, Instagram, atau YouTube — daripada dengan buku pelajaran.
Informasi yang berada di internet memang melimpah, tetapi tidak dipungkiri bahwa tidak sedikit pula yang dangkal, cepat, dan penuh distraksi.
Umumnya para pelajar lebih memanfaatkan waktu belajar melalui pola “scrolling”, bukan dengan pola “understanding”.
Inikah model pendidikan yang kita harapkan? Apakah kita hanya akan mencetak generasi yang pandai berselancar di permukaan, tetapi rapuh dalam kedalaman berpikir?
Lebih dari itu, pendidikan kita kerap terjebak dalam euforia digitalisasi tanpa arah. Banyak sekolah yang bangga menggunakan aplikasi daring, tetapi melupakan inti dari pendidikan itu sendiri: membentuk manusia yang berpikir kritis, berkarakter, dan berempati.
Apalah artinya seorang anak berkemampuan teknologi tinggi, tetapi gagal memahami nilai-nilai kemanusiaan? Bukankah pendidikan seharusnya lebih dari sekadar kecakapan digital?
Ironisnya, guru sering kali kewalahan menghadapi perubahan ini. Banyak yang beradaptasi secara terpaksa, tanpa persiapan yang memadai. Akibatnya, teknologi hanya sebagai sarana pengganti papan tulis, bukan sebagai medium yang benar-benar memperkaya proses belajar.
Padahal, peran guru tidak bisa tergantikan oleh apapun, apalagi oleh mesin. Guru merupakan penanam nilai, pembimbing jiwa, dan teladan moral. Jika pendidikan secara keseluruhan diserahkan kepada teknologi, lalu siapa yang akan memastikan seorang anak belajar menjadi manusia yang seutuhnya?
***
Persoalan besar pendidikan di era digital bukan hanya soal “mengikuti tren teknologi”, melainkan soal menjaga esensi pendidikan itu sendiri.
Kita butuh keseimbangan: antara teknologi dan kemanusiaan, antara akses digital dan pemerataan, antara informasi cepat dan pemahaman mendalam.
Tanpa itu, pendidikan hanya akan menjadi ruang kosong yang terlihat canggih tetapi hampa makna.
Di sinilah pentingnya keberanian mengambil sikap. Pendidikan tidak boleh tunduk pada arus teknologi semata.
Pendidikan harus menjadi jangkar yang menuntun teknologi agar berpihak pada kemanusiaan. Kita tidak boleh membiarkan anak-anak kehilangan arah hanya karena terlalu sibuk mengejar “digitalisasi”.
Kemerdekaan sejati dalam pendidikan bukanlah ketika semua siswa memiliki gawai di tangannya, tetapi ketika semua anak — tanpa memandang asal, status, atau kondisi ekonomi — memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, berpikir, dan bermimpi.
Bukan layar yang menentukan masa depan mereka, melainkan akal sehat, empati, dan karakter yang terbentuk dari pendidikan yang benar.
Pendidikan di era digital adalah medan perjuangan. Jika kita lengah, teknologi bisa menjadi jebakan yang memperlebar jurang ketidakadilan.
Namun jika kita bijak, teknologi bisa menjadi sayap yang membawa generasi menuju peradaban yang lebih luhur.
Permasalahannya: apakah kita mendidik anak-anak untuk sekadar mengikuti algoritma, atau untuk menjadi manusia yang mampu mengendalikan arah sejarahnya sendiri?***
*) Editor : Notonegoro