Oleh : Alfain Jalaluddin Ramadlan (Guru MTs Muhammadiyah 15 Al Mizan Lamongan, Anggota KM3 Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ketua Devisi Pustaka dan Literasi Kwarwil Hizbul Wathan Jawa Timur)
pwmu.co – Sejarah bangsa Indonesia tidak dapat dilepaskan dari peran besar para tokoh pembaharu yang meletakkan dasar-dasar kemajuan pendidikan.
Salah satunya adalah Kiai Haji Ahmad Dahlan (1868–1923), pendiri Muhammadiyah. Selain dikenal sebagai ulama pembaharu dan pejuang kemerdekaan, KH Ahmad Dahlan juga adalah seorang guru sejati.
Dedikasi dan pemikirannya dalam bidang pendidikan melampaui zamannya, bahkan menjadi inspirasi hingga hari ini.
Dengan meneladani Ahmad Dahlan, kita dapat menemukan landasan penting untuk membangun pendidikan Indonesia yang berkeadaban, modern, dan berakar pada nilai-nilai agama.
***
KH Ahmad Dahlan lahir di Kauman, Yogyakarta. Dalam sejarah, beliau dikenal bukan sekadar ulama yang menyampaikan dakwah di mimbar, tetapi juga seorang guru yang memikirkan metode pendidikan secara serius.
Saat mendirikan Muhammadiyah pada tahun 1912, salah satu fokus utamanya adalah pendidikan. Beliau mendirikan sekolah-sekolah Muhammadiyah dengan sistem klasikal, memasukkan ilmu agama sekaligus ilmu umum, sesuatu yang pada masa itu dianggap “nyeleneh” oleh banyak kalangan tradisional.
Menurut catatan Alfian dalam bukunya Muhammadiyah: The Political Behavior of a Muslim Modernist Organization in Indonesia (1989), KH Ahmad Dahlan memperkenalkan metode pengajaran modern dengan menggunakan bangku, papan tulis, dan kurikulum teratur.
Ini menunjukkan bahwa beliau ingin agar pendidikan Islam tidak tertinggal dari pendidikan Barat yang dibawa oleh pemerintah kolonial.
Fakta ini menjadi bukti bahwa KH Ahmad Dahlan memposisikan dirinya bukan hanya sebagai kiai, tetapi sebagai pendidik yang membawa inovasi.
***
Metode Pengajaran yang Humanis dan Kontekstual
Salah satu contoh nyata bagaimana KH Ahmad Dahlan mengajar adalah saat beliau mendalami dan mengajarkan surat Al-Ma’un.
Diceritakan oleh murid-muridnya, ketika beliau menafsirkan surat ini, tidak hanya berhenti pada pengertian tekstual, tetapi juga meminta murid-muridnya untuk mengamalkan isinya: menolong anak yatim dan fakir miskin.
Bahkan, ia pernah mengulang-ulang pengajian Al-Ma’un hingga murid-muridnya bosan, tetapi akhirnya mereka sadar bahwa tujuan pendidikan bukan hanya pengetahuan, melainkan juga aksi nyata.
Menurut Haedar Nashir dalam bukunya Muhammadiyah Gerakan Pembaruan (2010), kisah pengajaran Al-Ma’un ini menjadi bukti bahwa KH Ahmad Dahlan mengedepankan pendidikan yang membentuk karakter sosial dan kepekaan terhadap realitas.
Metode ini sejalan dengan prinsip pendidikan modern yang menekankan learning by doing.
Dedikasi sebagai Guru Bangsa
Sebagai pendidik, KH Ahmad Dahlan rela berkorban. Ia menjual sebagian hartanya, bahkan alat musik gamelan kesayangannya, untuk mendanai sekolah Muhammadiyah.
Ahmad Dahlan juga menghadapi cercaan dari sebagian masyarakat yang menuduh sekolah Muhammadiyah sebagai “sekolah kafir” karena menggunakan metode modern.
Namun, dengan kesabaran seorang guru, beliau tetap konsisten. Hasilnya, sekolah Muhammadiyah berkembang pesat dan menjadi pionir dalam pendidikan Islam modern di Indonesia.
Tidak berlebihan jika banyak ahli menilai KH Ahmad Dahlan sebagai salah satu guru bangsa. Pengakuan ini diperkuat ketika pemerintah Republik Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 1961 melalui Keputusan Presiden No. 657.
Penetapan ini menegaskan bahwa perjuangan beliau di bidang pendidikan merupakan kontribusi besar terhadap kemajuan bangsa.
***
Warisan Pendidikan yang Nyata
Fakta paling konkret dari peran KH Ahmad Dahlan sebagai pendidik adalah lahirnya ribuan lembaga pendidikan Muhammadiyah di seluruh Indonesia, mulai dari TK, SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi.
Berdasarkan data dari Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah per Agustus 2025, terdapat 182 Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) di Indonesia, yang terdiri dari 99 Universitas, 32 Sekolah Tinggi, 26 Institut, 4 Politeknik, dan 1 Akademi.
Ketua Majelis Dikdasmen PNF PP Muhammadiyah H Didik Suhardi, PhD pada Pembukaan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Majelis Dikdasmen PNF PP Muhammadiyah pada Jum’at, 31 Mei 2024 di Semarang, Jawa Tengah; menyebutkan terdapat lebih dari satu juta siswa sekolah/madrasah Muhammadiyah se-Indonesia.
Selanjutnya berdasarkan DapodikMu, jumlah satuan pendidikan dari SD-SMA/sederajat ada 5.346 sekolah/madrasah. Rincian dari jumlah satuan pendidikan ini SD/MI berjumlah 2.453 sekolah. Selanjutnya SMP/MTs berjumlah 1.599 sekolah. SMA/MA/SMK berjumlah 1.294 sekolah
Jumlah ini terus bertambah karena Muhammadiyah memiliki komitmen kuat dalam pengembangan pendidikan di berbagai tingkatan.
Semua ini merupakan warisan dari gagasan pendidikan Ahmad Dahlan yang terus berlanjut hingga kini.
Bahkan, banyak tokoh bangsa lahir dari sekolah-sekolah Muhammadiyah. Misalnya, Buya Syafii Maarif (tokoh bangsa dan pernah menjadi Ketua PP Muhammadiyah), Amien Rais, hingga tokoh muda seperti Anies Baswedan pernah menempuh pendidikan di lingkungan Muhammadiyah.
Hal ini menunjukkan bahwa model pendidikan yang dirintis KH Ahmad Dahlan terbukti berkontribusi nyata bagi kemajuan bangsa.
Relevansi Teladan KH Ahmad Dahlan bagi Guru Masa Kini
Jika meneladani KH Ahmad Dahlan, ada beberapa nilai penting yang dapat diambil guru di Indonesia saat ini:
1. Integrasi Ilmu Agama dan Ilmu Umum
KH Ahmad Dahlan sejak awal menekankan pentingnya memadukan pendidikan agama dengan ilmu pengetahuan modern.
Hal ini dibuktikan ketika ia mendirikan sekolah Muhammadiyah pada tahun 1911 yang menggunakan sistem klasikal seperti sekolah Belanda, tetapi tetap memberi porsi besar pada pendidikan agama.
Langkah ini merupakan terobosan besar karena pada masa itu pendidikan Islam cenderung hanya berfokus pada ilmu-ilmu agama tradisional, sementara ilmu umum dianggap asing.
Guru masa kini dapat meneladani hal ini dengan mengajarkan sains, matematika, dan teknologi tanpa mengabaikan pembentukan akhlak dan spiritualitas siswa. Dengan cara itu, lahirlah generasi yang cerdas secara intelektual sekaligus berkarakter.
2. Pendidikan yang Aplikatif
Salah satu ciri khas KH Ahmad Dahlan adalah menjadikan pendidikan sebagai alat untuk melahirkan tindakan nyata. Teladan yang paling terkenal adalah ketika beliau berulang kali mengajarkan murid-muridnya Surat Al-Ma’un.
Menurut catatan Abdul Munir Mulkhan dalam Kesalehan Multikultural (2005), KH Ahmad Dahlan tidak puas jika muridnya hanya hafal, tetapi menuntut mereka mengaplikasikan ajaran itu dengan membantu fakir miskin, anak yatim, dan kaum lemah.
Dari sinilah kemudian lahir amal usaha Muhammadiyah seperti panti asuhan, rumah sakit, dan sekolah.
Fakta ini menjadi pesan penting bagi guru masa kini: pendidikan tidak boleh hanya berhenti pada kognisi, tetapi harus mendorong aksi nyata yang memberi manfaat bagi masyarakat.
3. Dedikasi dan Keikhlasan
Sebagai guru dan muballigh, KH Ahmad Dahlan dikenal sangat ikhlas dan penuh dedikasi.
Dalam catatan Kuntowijoyo (Muhammadiyah dan Politik), KH Ahmad Dahlan sering menjual harta pribadinya, termasuk perhiasan milik istrinya Nyai Ahmad Dahlan, demi membiayai sekolah dan kegiatan sosial Muhammadiyah.
Ia mengajar bukan untuk gaji, melainkan karena panggilan dakwah dan tanggung jawab moral.
Guru masa kini pun diingatkan untuk meneladani semangat pengabdian tersebut. Meskipun tantangan kesejahteraan guru masih menjadi isu aktual, dedikasi seorang guru tetaplah kunci dalam mencetak generasi penerus bangsa.
4. Berani Melawan Arus
KH Ahmad Dahlan merupakan figur yang berani melawan arus tradisi stagnan di zamannya. Ketika ia memperkenalkan arah kiblat yang sesuai dengan perhitungan astronomi modern, banyak pihak menentang.
Begitu pula ketika ia mendirikan sekolah dengan sistem klasikal yang dianggap meniru Belanda, ia bahkan sempat dicemooh. Namun, keberanian itulah yang menjadikan Muhammadiyah berkembang pesat hingga kini.
Guru masa kini juga dituntut untuk memiliki keberanian yang sama: berinovasi dalam metode pembelajaran, memanfaatkan teknologi digital, serta melahirkan kreativitas baru meski kadang ditentang oleh kebiasaan lama.
Tanpa keberanian melawan arus, pendidikan akan tertinggal dan tidak mampu menjawab kebutuhan zaman.
Oleh karena itu, KH Ahmad Dahlan adalah teladan pendidik yang melampaui zamannya. Ia bukan hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga menanamkan nilai, menggerakkan aksi sosial, dan menyiapkan generasi Muslim yang modern sekaligus berakhlak.
Fakta sejarah menunjukkan bahwa metode dan dedikasi beliau membawa perubahan besar bagi pendidikan Indonesia.
Meneladani beliau, guru-guru Indonesia masa kini semestinya menjadi pilar utama kemajuan bangsa: mengintegrasikan ilmu dengan iman, menumbuhkan kepekaan sosial, dan melahirkan generasi yang mampu menjawab tantangan global.
Dengan demikian, peran guru sebagaimana ditunjukkan KH Ahmad Dahlan, tetap menjadi kunci kemajuan bangsa Indonesia di masa depan.
Wallahu a’lam bishawab. (*)
*) Artikel ini diambil dari pwmu.com