pwmu.co – Suasana hangat dan penuh kekeluargaan terasa di Hall Hotel El Resas Lamongan, Rabu (1/4/2026) siang. MTs Muhammadiyah 15 Al Mizan Lamongan menggelar kegiatan halalbihalal yang dirangkai dengan rapat bulanan, sebagai momentum mempererat ukhuwah sekaligus menguatkan kembali semangat kerja pasca Ramadan.
Kegiatan ini dihadiri oleh Wakil Mudir Al Mizan bidang Pendidikan, Suwito, M.Pd, Kepala Madrasah Alimah, M.Pd, serta seluruh guru dan karyawan. Senyum, sapa, dan saling berjabat tangan menjadi pembuka yang sederhana, namun sarat makna: saling memaafkan dan membersihkan hati.
Dalam kajian iftitah, Anggun Imanto, M.Pd, mengajak seluruh peserta untuk memaknai Idul Fitri secara lebih mendalam. Ia menjelaskan bahwa kata “Idul Fitri” tidak hanya dimaknai sebagai kembali makan di pagi hari (iftar), tetapi juga kembali kepada fitrah, bahkan sebagai isyarat menuju kebahagiaan surga (ilal jannah) bagi mereka yang berhasil menjalani ibadah Ramadan.
“Kesempurnaan puasa Ramadan tidak berhenti pada menahan lapar dan dahaga, tetapi disempurnakan dengan saling memaafkan,” ujarnya.
Ia mengingatkan sabda Nabi Muhammad SAW bahwa setiap hari Senin dan Kamis, pintu-pintu surga dibuka dan dosa-dosa hamba diampuni, kecuali bagi mereka yang masih menyimpan permusuhan. Karena itu, halalbihalal menjadi ruang penting untuk membersihkan hati dari dendam dan prasangka.
Lebih lanjut, ia juga menyinggung tentang orang yang bangkrut di hari kiamat, yaitu mereka yang memiliki banyak amal, tetapi juga pernah menzalimi orang lain. Pada akhirnya, amal kebaikan itu habis untuk membayar kesalahan kepada sesama, bahkan bisa dibebani dengan dosa orang lain.
Pesan itu menggugah kesadaran seluruh peserta bahwa menjaga hubungan baik antarsesama bukan sekadar etika sosial, tetapi juga bagian dari keselamatan di akhirat.
Dalam suasana yang penuh keakraban, nilai-nilai saling memaafkan itu semakin terasa nyata. Budaya “kupat” dalam tradisi Jawa—ngaku lepat (mengakui kesalahan) dan ngaturaken pangapunten (memohon maaf)—seolah hidup dalam interaksi para guru dan karyawan hari itu.
“Kalau sudah saling memaafkan, jangan lagi mencari-cari kesalahan atau membicarakan keburukan orang lain. Biarkan hati kita tetap bersih dan lapang,” pesan Anggun Imanto.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga penguat semangat kebersamaan dalam bekerja dan berjuang di dunia pendidikan. Dengan hati yang bersih dan hubungan yang harmonis, para guru diharapkan dapat menjalankan tugas dengan lebih ikhlas dan penuh dedikasi.
Di penghujung kajian iftitahnya, suasana haru dan bahagia turut menyelimuti kebersamaan tersebut. Dia memberikan kabar menggembirakan datang dari beberapa guru yang tengah mengandung, sebagai tanda keberkahan yang terus mengalir. Selain itu, ada pula kabar bahagia dari guru yang baru saja melangsungkan lamaran, menambah nuansa syukur di tengah keluarga besar Al Mizan.
Halalbihalal hari itu bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan momentum untuk kembali menata hati, memperkuat ukhuwah, dan meneguhkan langkah bersama dalam mendidik generasi yang berakhlak dan berilmu. (*)
*) Penulis : Alfain jalaluddin ramadlan | Editor : Azrohal Hasan




